Senin, 12 Januari 2015

Uji coba Vektor dan reservoar





Menyongsong Fajar di Timur Donggala



Kala itu kegelapan masih bertahan menyelimuti alam semesta. Suasana hening menggelayut. Belum terdengar suara kendaraan bermotor beradu, alih-alih asap knalpot yang menimbulkan polusi udara tak berkesudahan.  Tarikan nafas berseling dengan hembusan yang menyelusup teduh hingga ke rongga dada. Namun gelap ini bukanlah pertanda malam. Perlahan tapi pasti semburat kebiruan mulai menampakkan diri. Titik-titik embun yang menempel di pucuk daun  menjadi penanda mutlak bahwa fajar akan segera menyingsing. Secara perlahan menggantikan kabut malam dengan benang emas matahari yang menggurat indah di langit. 

Dalam kondisi seperti inilah tim “penjelajah” Vektor dan Reservoar menuntaskan pencarian mangsanya sedari  kemarin malam. Terdiri dari para Peneliti dan tim laboratorium B2PVRP Salatiga dan Balai Besar Donggala, tim penjelajah keluar masuk hutan dan daerah pantai demi mendapatkan kumpulan hewan vektor dan Reservoar untuk diperiksa. Termasuk didalamnya yakni nyamuk sebagai vektor, tikus dan kelelawar sebagai reservoar. 

Uji Coba Rikhus Vektora
Tim penjelajah ini adalah para peneliti yang sedang melakukan uji coba lapangan terkait Riset Khusus Vektor dan Reservoar yang digawangi oleh Balai Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga. Berlangsung selama kurang lebih 1 bulan, wilayah yang menjadi sasaran uji coba adalah Desa Malino, Desa Tanah Mpulu dan Desa Lalombu di Donggala. Wilayah Donggala dipilih sebagai lokasi uji coba karena varietas Vektor dan Reservoarnya yang sangat beragam. 
Tim Uji Coba Reservoar Badan Litbangkes Kemenkes RI


Dalam uji coba ini, Tim Vektora Salatiga bekerja sama dengan Tim dari Balai  Penelitian dan Pengembangan P2B2 Donggala saat pelaksanaan di lapangan. Terbagi menjadi Tim Vektor dan Tim Reservoar, Uji Coba Rikhus Vektora di Donggala ini meliputi tiga ekosistem, yakni Ekosisem Hutan, Non hutan, dan Pantai. Untuk masing-masing ekosistem ini dipecah lagi menjadi dua kategori, yakni yang dekat dengan penduduk dan jauh dari penduduk.
Masing-masing ekosistem masuk dalam kategori jauh dari penduduk bila jarak uji coba memerlukan waktu minimal 1 jam bila berjalan kaki atau berjarak 5 km. Dan berjarak dekat dengan penduduk bila lokasi uji coba berdekatan dengan rumah penduduk.   

Berteman Bulan dan Matahari
Kali ini adalah giliran menyisir daerah hutan dan non hutan (ladang -red) yang jauh dari penduduk.  Kalau menyebut dua daerah ini, maka bisa dipastikan kawasan yang dipilih jauh dari jamahan manusia. Suka tidak suka, tim penjelajah harus menghabiskan beberapa malam di daerah ini. Tenda-tenda pun didirikan sebagai tempat berlindung sementara. Di desa Malino, hidup di tenda ini dilakoni selama 3 hari. Sedang di desa Tanah Mpulu, 2 hari mereka habiskan dengan bertenda. Dibutuhkan 2 tenda untuk istirahat, dan 1 tenda untuk laboratorium lapangan. Untuk tim reservoar saja, alat-alat yang harus dibawa terdiri dari  100 perangkap tikus, 1 perangkap harpa u kelelawar, dan kebutuhan untuk laboratorium lapangan. Belum lagi tim vektor dengan mikroskopnya dan berbagai peralatan memangkap jentik dan nyamuk. Bisa dibayangkan kerepotan saat menyiapkan semua peralatan tersebut. 

Melepaskan kelelawar dari Jeratan Jaring
Berbagai persiapan dilakukan demi 'kenyamanan' selama bertenda. Bahkan kompor gas kecil satu tungku dengan tabung gas super mini yang menempel, ikut pula berjejalan dalam daftar perbekalan.  Karena bertenda sama artinya pada terbatasnya akses pada segala kemudahan modernitas. Jangan membayangkan makanan beruap penuh selera yang baru diangkat dari perapian, makan ubi bakar pun sudah menjadi kemewahan tersendiri.   
Untuk urusan kakus, mimpi namanya bila berharap melakukannya di tempat tertutup permanen yang kita kenal dengan sebutan toilet. semuanya dilakukan di alam terbuka. Untuk menutupi, sesama tim saling membantu dengan membentangkan kain panjang atau sarung dan melingkarkannya hingga tertutupi si empunya hajat. Tanah pun digali dalam-dalam untuk menyembunyikan sisa makanan yang dikeluarkan, karena tak tersedianya kloset untuk membuangnya. 

Pok-pok di Pantai Barat Donggala
Sebelum melakukan uji coba, Rikhus Vektora  yang bertujuan untuk pemetaan penyebaran vektora sebagai penyakit yang ada di Indonesia ini pun melakukan TC (Training Centre). Pada TC inilah pembekalan pembelajaran teknis di lapangan dilakukan. Hal ini tak lain agar saat uji coba di lapangan, para enumerator yang terlibat sudah terbiasa dengan berbagai hal teknis yang muncul di lapangan.
TC yang mengambil lokasi di pantai Barat Donggala ini, tepatnya berada di Desa Tamarenja Kec...., Donggala. Sempat ada kejadian misterius saat TC sedang berlangsung. Terlepas dari benar atau tidaknya, kejadian ini tak urung membuat bulu kuduk merinding.
Kebetulan, masyarakat mengenal daerah itu sebagai wilayah yang penduduknya banyak menggunakan kekuatan ilmu hitam (kemampuan yang dimiliki tanpa mengindahkan larangan agama-red). Parahnya, ilmu hitam ini kabarnya bisa membuat mereka tidak terlihat oleh mata manusia pada umumnya. Terutama di malam hari. Mereka yang tak terlihat ini disebut dengan Pokpok..
Ketua Lapangan Tim Vektor  Mujiyono sempat merasakannya. Kala  itu hampir tengah malam, saat sedang berada dekat pantai ia merasakan seperti ada beberapa pasang mata yang seperti sedang mengamatinya. Anehnya, saat ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, tak terlihat satupun mahkluk atau manusia. Praktis, kejadian ini membuat bulu kuduknya meremang.Cerita tentang Pokpok pun sontak melintas. Hingga tak butuh waktu lama, Muji pun bergegas menemui anggota tim yang lain.   

Menyongsong Puldat 2015
Terlepas dari berbagai cerita yang mewarnai, uji coba dari tim Vektor dan Reservoar ini bisa dikatakan telah memenuhi target. Bahkan terkadang jumlah nyamuk, tikus, atau pun kelelawar yang ditangkap jumlahnya  melebihi dari yang diharapkan. Pada saat pengumpulan data di tahun 2015 nanti, diharapkan pemetaan dari penyakit yang dibawa oleh vektor dan reservoar ini dapat terekam dengan baik.    ***

Salah satu kawasan penangkapan Nyamuk









Tidak ada komentar:

Posting Komentar