Menyongsong
Fajar di Timur Donggala
Kala itu kegelapan masih bertahan menyelimuti alam semesta. Suasana hening menggelayut. Belum terdengar suara kendaraan bermotor beradu, alih-alih asap knalpot yang menimbulkan polusi udara tak berkesudahan. Tarikan nafas berseling dengan hembusan yang menyelusup teduh hingga ke rongga dada. Namun gelap ini bukanlah pertanda malam. Perlahan tapi pasti semburat kebiruan mulai menampakkan diri. Titik-titik embun yang menempel di pucuk daun menjadi penanda mutlak bahwa fajar akan segera menyingsing. Secara perlahan menggantikan kabut malam dengan benang emas matahari yang menggurat indah di langit.
Kala itu kegelapan masih bertahan menyelimuti alam semesta. Suasana hening menggelayut. Belum terdengar suara kendaraan bermotor beradu, alih-alih asap knalpot yang menimbulkan polusi udara tak berkesudahan. Tarikan nafas berseling dengan hembusan yang menyelusup teduh hingga ke rongga dada. Namun gelap ini bukanlah pertanda malam. Perlahan tapi pasti semburat kebiruan mulai menampakkan diri. Titik-titik embun yang menempel di pucuk daun menjadi penanda mutlak bahwa fajar akan segera menyingsing. Secara perlahan menggantikan kabut malam dengan benang emas matahari yang menggurat indah di langit.
Dalam kondisi seperti inilah tim “penjelajah” Vektor dan Reservoar menuntaskan pencarian mangsanya sedari kemarin malam. Terdiri dari para Peneliti dan tim laboratorium B2PVRP Salatiga dan Balai Besar Donggala, tim penjelajah keluar masuk hutan dan daerah pantai demi mendapatkan kumpulan hewan vektor dan Reservoar untuk diperiksa. Termasuk didalamnya yakni nyamuk sebagai vektor, tikus dan kelelawar sebagai reservoar.
Uji
Coba Rikhus Vektora
Tim penjelajah ini
adalah para peneliti yang sedang melakukan uji coba lapangan terkait Riset
Khusus Vektor dan Reservoar yang digawangi oleh Balai Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga. Berlangsung selama kurang lebih 1
bulan, wilayah yang menjadi sasaran uji coba adalah Desa Malino, Desa Tanah
Mpulu dan Desa Lalombu di Donggala. Wilayah Donggala dipilih sebagai lokasi uji
coba karena varietas Vektor dan Reservoarnya yang sangat beragam.
| Tim Uji Coba Reservoar Badan Litbangkes Kemenkes RI |
Dalam
uji coba ini, Tim Vektora Salatiga bekerja sama dengan Tim dari Balai Penelitian dan Pengembangan P2B2 Donggala saat
pelaksanaan di lapangan. Terbagi
menjadi Tim Vektor dan Tim Reservoar, Uji Coba Rikhus Vektora di Donggala ini
meliputi tiga ekosistem, yakni Ekosisem Hutan, Non hutan, dan Pantai. Untuk
masing-masing ekosistem ini dipecah lagi menjadi dua kategori, yakni yang dekat
dengan penduduk dan jauh dari penduduk.
Masing-masing
ekosistem masuk dalam kategori jauh dari penduduk bila jarak uji coba
memerlukan waktu minimal 1 jam bila berjalan kaki atau berjarak 5 km. Dan
berjarak dekat dengan penduduk bila lokasi uji coba berdekatan dengan rumah
penduduk.
Berteman
Bulan dan Matahari
Kali ini adalah giliran menyisir
daerah hutan dan non hutan (ladang -red) yang jauh dari penduduk. Kalau menyebut dua daerah ini, maka bisa
dipastikan kawasan yang dipilih jauh dari jamahan manusia. Suka tidak suka, tim
penjelajah harus menghabiskan beberapa malam di daerah ini. Tenda-tenda pun
didirikan sebagai tempat berlindung sementara. Di desa Malino, hidup di tenda
ini dilakoni selama 3 hari. Sedang di desa Tanah Mpulu, 2 hari mereka habiskan
dengan bertenda. Dibutuhkan 2 tenda untuk istirahat, dan 1 tenda untuk
laboratorium lapangan. Untuk tim reservoar saja, alat-alat yang harus dibawa
terdiri dari 100 perangkap tikus, 1
perangkap harpa u kelelawar, dan kebutuhan untuk laboratorium lapangan. Belum
lagi tim vektor dengan mikroskopnya dan berbagai peralatan memangkap jentik dan
nyamuk. Bisa dibayangkan kerepotan saat menyiapkan semua peralatan tersebut.
| Melepaskan kelelawar dari Jeratan Jaring |
Berbagai
persiapan dilakukan demi 'kenyamanan' selama bertenda. Bahkan kompor gas kecil
satu tungku dengan tabung gas super mini yang menempel, ikut pula berjejalan
dalam daftar perbekalan. Karena bertenda
sama artinya pada terbatasnya akses pada segala kemudahan modernitas. Jangan
membayangkan makanan beruap penuh selera yang baru diangkat dari perapian,
makan ubi bakar pun sudah menjadi kemewahan tersendiri.
Untuk
urusan kakus, mimpi namanya bila berharap melakukannya di tempat tertutup
permanen yang kita kenal dengan sebutan toilet. semuanya dilakukan di alam
terbuka. Untuk menutupi, sesama tim saling membantu dengan membentangkan kain
panjang atau sarung dan melingkarkannya hingga tertutupi si empunya hajat.
Tanah pun digali dalam-dalam untuk menyembunyikan sisa makanan yang
dikeluarkan, karena tak tersedianya kloset untuk membuangnya.
Pok-pok
di Pantai Barat Donggala
Sebelum melakukan uji coba, Rikhus
Vektora yang bertujuan untuk pemetaan
penyebaran vektora sebagai penyakit yang ada di Indonesia ini pun melakukan TC
(Training Centre). Pada TC inilah pembekalan pembelajaran teknis di lapangan
dilakukan. Hal ini tak lain agar saat uji coba di lapangan, para enumerator
yang terlibat sudah terbiasa dengan berbagai hal teknis yang muncul di
lapangan.
TC yang
mengambil lokasi di pantai Barat Donggala ini, tepatnya berada di Desa
Tamarenja Kec...., Donggala. Sempat ada kejadian misterius saat TC sedang
berlangsung. Terlepas dari benar atau tidaknya, kejadian ini tak urung membuat
bulu kuduk merinding.
Kebetulan,
masyarakat mengenal daerah itu sebagai wilayah yang penduduknya banyak
menggunakan kekuatan ilmu hitam (kemampuan yang dimiliki tanpa mengindahkan
larangan agama-red). Parahnya, ilmu hitam ini kabarnya bisa membuat mereka
tidak terlihat oleh mata manusia pada umumnya. Terutama di malam hari. Mereka
yang tak terlihat ini disebut dengan Pokpok..
Ketua
Lapangan Tim Vektor Mujiyono sempat
merasakannya. Kala itu hampir tengah
malam, saat sedang berada dekat pantai ia merasakan seperti ada beberapa pasang
mata yang seperti sedang mengamatinya. Anehnya, saat ia mengedarkan pandangan
ke sekeliling, tak terlihat satupun mahkluk atau manusia. Praktis, kejadian ini
membuat bulu kuduknya meremang.Cerita tentang Pokpok pun sontak melintas.
Hingga tak butuh waktu lama, Muji pun bergegas menemui anggota tim yang
lain.
Menyongsong
Puldat 2015
Terlepas dari berbagai cerita yang
mewarnai, uji coba dari tim Vektor dan Reservoar ini bisa dikatakan telah memenuhi
target. Bahkan terkadang jumlah nyamuk, tikus, atau pun kelelawar yang
ditangkap jumlahnya melebihi dari yang
diharapkan. Pada saat pengumpulan data di tahun 2015 nanti, diharapkan pemetaan
dari penyakit yang dibawa oleh vektor dan reservoar ini dapat terekam dengan
baik. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar