Jumat, 08 Februari 2013

Bahagia itu ya Sedih, Sedih itu ya Bahagia......

 Bahagia itu ya Sedih, Sedih itu ya Bahagia......

 

Bahwa kebahagiaan itu adalah tujuan hidup semua orang, saya rasa ya. Bahwa kesedihan merupakan hal yang tidak diinginkan oleh semua orang, saya rasa jawabannya juga adalah ya. Bahkan kalau dimungkinkan, segala sesuatu yang menyedihkan, menyebabkan ketidak bahagiaan, hilangkan saja dari muka ini.

Namun di sisi lain, kebahagiaan dan kesedihan merupakan dua hal yang sesungguhnya satu. Pernahkah terbetik untuk merenungi, takkan kita mengenal apa itu bahagia tanpa kita pernah merasakan apa itu kesedihan?
Untuk hal ini, saya punya pengalaman nyata yang cukup membuat nurani terketuk. Di masa lalu, saat saya masih bersekolah di suatu perguruan tinggi di Lampung, saya merasakan kondisi kesehatan saya sedikit menurun ketimbang biasanya. Kalau tidak salah sudah hampir seminggu badan saya meriang. Lalu kepada seorang teman saya ungkapkan betapa saya merasa dirundung pilu dengan kondisi saya yang kurang sehat.
 Awalnya saya mengharapkan simpati dan nada yang menghibur agar saya tersemangati. Namun teman saya tanpa dinyana mengatakan hal ini kepada saya. "Sudah berapa lama kamu sakit? lalu sebelumnya. sudah berapa lama kamu merasakan sehat/senang?" Mungkin pernyataan teman saya ini seperti ungkapan sambil lalu. Namun bagi saya ungkapannya ini bermakna dalam filosofinya. Dia ingin mengatakan, bahwa hidup itu memang sudah diatur oleh Sang Maha dengan kebahagiaan dan kesedihan. Hal ini tentu dimaksudkan, agar dalam kondisi apapun kita terus mengingat kondisi sebaliknya, agar kita senantiasa bersyukur dengan nikmat apapun yang diberi. Ya, ternyata bukan hanya kebahagiaan yang menjadi nikmat, namun pula kesedihan yang seringkali menguras emosi dan air mata. Tanpa pernah merasakan senang, tidak akan kita mengerti apa itu kesedihan. Dengan merasakan sedih, kita akan terkenang betapa damai dalam kebahagiaan. Kebahagiaan dan kesedihan bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, saling melengkapi satu dengan yang lain.

lalu, nikmat Sang Maha yang mana yang engkau dustakan? Wallahualam.....